Home > Artikel > Wynton

Wynton

Penulis: Beben Jazz

Wynton Ajari Jazz sebagai Suara Hati
"MR Marsalis, siapa pemain terompet kesukaan Anda?"

Pertanyaan itu diajukan oleh seorang bocah berumur sekitar tujuh tahun kepada terompetis Wynton Marsalis (41) di Singapura, Sabtu (2/11) siang pekan lalu. Saat itu bersama Lincoln Center Jazz Orchestra (LCJO), Wynton menggelar Jazz for Young People, konser edukatif bagi para penggemar muda jazz di Esplanade, gedung konser baru yang megah di bilangan Marina Bay, Singapura.

Dengan gaya bersahabat, Wynton menjawab pertanyaan sang bocah. "Harus saya katakan, terompetis kesukaan saya itu Louis Armstrong. Tapi, karena saya menyukai terompet, maka saya juga menyukai setiap pemain terompet, termasuk kalian yang sedang belajar meniup," ucap terompetis peraih penghargaan Pulitzer untuk oratorio Blood on the Field itu.

Wynton, peraih sembilan penghargaan Grammy, lalu meniup terompet menirukan bunyi terompet para pemula yang terseok-seok itu. Maka terdengarlah bunyi seperti "katak batuk". Hadirin, termasuk bocah-bocah itu, terpingkal-pingkal. "Like that," katanya.

Begitulah musikus dan pendidik jazz kelahiran New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat (AS), 18 Oktober 1961, itu berbicara tentang jazz kepada anak-anak di Singapura. Mulai dari penggemar dewasa, berikut anak-anak mereka, sampai anak-anak sekolah berseragam datang ke Esplanade, gedung baru yang pernah juga dijajal seniman tari Boi G Sakti dan Sardono W Kusumo.

Dengan cara yang sangat akrab, ramah, kocak, dan sama sekali tidak menggurui, Wynton memperkenalkan jazz lewat narasi dan musik. Dia memperkenalkan Charles Mingus (1922-1979), seorang musikus, pemain bas, komposer, inovator jazz penting. Wynton menjelaskan tetek-bengek seputar jazz dengan bahasa sederhana yang bisa dipahami anak.

Dia membicarakan beat sampai rasa jazz sebagai bahan dengaran yang nyaman dan disampaikan dengan suasana gembira. Penjelasan diikuti contoh musik yang dimainkan LCJO yang melibatkan 15 pemain yang terdiri atas lima pemain saksofon, tiga trombon, empat terompet termasuk Wynton dan Marcus Printup, serta piano, drum, dan bas. Mereka memainkan komposisi Mingus seperti Meditation yang tergolong karya "berat". Namun, LCJO yang terdiri dari musisi dengan kemampuan teknik prima, serta rasa jazz yang tidak main-main itu menjadikan jazz benar-benar sebagai bahan kenikmatan telinga. Semuanya disampaikan dalam suasana gembira, penuh canda.

Wynton, misalnya, menjelaskan bagaimana Mingus suka membuat ritme unik dalam komposisi. Wynton lalu mengajak penonton pada belahan kursi kanan menghitung dengan ketukan 1-2-3-4. Dalam waktu yang bersamaan, Wynton meminta hadirin pada belahan kursi lain untuk mengetuk dengan hitungan 1-2-3-4-5-6. Wynton memperjelas pendengaran dengan memasang telapak tangan di belakang daun telinga ke arah hadirin lalu berkomentar, "Uh, terrible (kacau), tapi beautiful."

Charles Mingus yang disuguhkan di Singapura hanyalah salah satu materi yang dirancang Wynton dalam kurikulum Jazz for Young People yang diadakan keliling dunia. Kurikulum juga membahas John Coltrane, Duke Ellington, atau juga tentang musik samba. Wynton berbicara soal Mingus dan jazz, disertai contoh permainan oleh LCJO.

Bocah-bocah Singapura itu boleh bertanya apa saja tentang jazz. Wynton meladeni pertanyaan paling polos sekalipun dengan cara sangat simpatik. Seorang bocah misalnya bertanya.

"Wynton, apakah kamu dapat main terompet sambil berbicara?"

"Hah! Kalau saya dapat bermain terompet sambil bicara, suatu hari nanti saya akan bermain sirkus," kata Wynton sambil menirukan gaya orang megap-megap kehabisan napas yang disambut tawa hadirin.

Penyebaran kegembiraan musik itu telah dilakukan Wynton Marsalis. Mereka menggelar program itu sejak tahun 1992 di 250 kota pada 30 negara di lima benua.

"Di mana pun Lincoln Center Jazz Orchestra bermain, hadirin dengan suka ria bereaksi pada sentuhan swing serta manisnya paduan instrumen tiup," tutur Wynton dalam acara jumpa pers di Hotel Oriental, Singapura, Rabu pekan lalu.

Kiprah Wynton dan LCJO dalam menyebarkan jazz merupakan program dari Jazz at Lincoln Center (JLC), sebuah organisasi nonprofit yang bergerak di bidang budaya yang memang hirau pada kesenian. JLC berada di bawah payung Lincoln Center yang juga menaungi New York Philharmonic Orchestra. Wynton menjabat sebagai Direktur Artistik JLC sejak 15 tahun lalu. Untuk menyebarkan dan mengembangkan jazz, mereka merancang program tahunan dan berkelanjutan berupa pendidikan, konser, dan siaran radio serta televisi untuk segala usia, termasuk untuk anak-anak yang diadakan di Singapura.

Atas dedikasinya pada pengajaran jazz, majalah Time memasukkan Wynton dalam daftar 25 orang paling berpengaruh di AS. Dia dianggap berhasil mengembalikan jazz ke pentas budaya Amerika dan sekaligus mendekatkan jazz ke hati kaum muda. Wynton memang tidak sungkan datang ke sekolah-sekolah dan mengobrol berjam-jam dengan anak-anak muda di arena parkir sekolahan sekalipun.

***

BAGI Wynton Marsalis, mengajar jazz menjadi semacam naluri yang diturunkan Ellis Marsalis, ayah Wynton yang pianis dan pendidik jazz dari New Orleans. Pasangan Ellis-Dolores Marsalis-seorang pekerja sosial- mempunyai enam anak dan empat di antara mereka dikenal sebagai seniman jazz. Selain Wynton, dikenal juga Brandford yang bermain saksofon, Delfeayo sang trombonis, dan Jason pemain drum.

Wynton memang seperti terlahir untuk jazz. New Orleans, kota kelahiran Wynton, juga tercatat sebagai kota yang turut menjadi tempat tumbuhnya jazz. Umur tiga tahun, Wynton sudah mencoba-coba meniup terompet dan baru pada umur tujuh tahun dia serius belajar musik. Oleh sang ayah, Wynton diarahkan untuk mendalami musik klasik pada usia 12 tahun. Pada tahun 1979, dia masuk sekolah musik terkenal The Julliard School, New York.

"Saya pada awalnya juga tidak mau main jazz. Waktu itu saya pikir apa sih jazz. Saya ikut marching band, terus main di band funk, dan main musik klasik juga," kata Wynton dalam jumpa pers.

Namun, seperti disebut dalam komposisi Intimacy Calling yang dimainkan Wynton dan Ellis Marsalis, jazz akhirnya seperti memanggil Wynton. Sementara aktif bermain musik klasik, Wynton pada tahun 1980 bergabung dengan kelompok Art Blakey Jazz Messenger yang banyak diikuti pemain muda, termasuk Brandford Marsalis, adik Wynton.

Wynton terkesan dengan ajaran Blakey yang mengatakan bahwa sekolah jazz terbaik itu ada di pentas band. Wynton kemudian menggabungkan teori musik dengan gaya Blakey dalam menularkan jazz lewat program Jazz for Young People. Dia mengajak orang untuk sejenak meminjamkan telinga untuk menerima jazz sebagai suara hati manusia. Dia tidak melihat jazz sebagai yang dimitoskan orang sebagai musik berat, rumit. Bagi Wynton, telinga orang tak berurusan dengan rumit atau tidak rumit. Yang diperlukan adalah ketulusan untuk membuka diri bagi ungkapan rasa orang lain lewat musik.

Dan itu dibuktikan Wynton di Esplanade. Begitu dia muncul di sudut pentas, terompet langsung terdengar dan hadirlah blues yang membuat hadirin menepak-nepak tangan tanda hati merasa nyaman. (XAR)

Suka halaman ini? Beritahu teman: