Home > Artikel > Bubi Chen

Bubi Chen

Penulis: Beben Jazz

Lagu "jangan sakiti hatinya" dari Iis Sugianto vokalis wanita, yang sangat popular di tahun 80 an mengalun di Pasar Seni Jaya Ancol, tapi bukan dinyanyikan langsung oleh sang Vokalis, melainkan lagu tersebut dimainkan secara Instrumental oleh sang Maestro Pianis Jazz Bubi Chen, yang kamis 16 Februari 2012 lalu meninggalkan kita pada usia 74 tahun. Dan saya berada ditempat itu, menyaksikan kepiawaian seorang Virtuoso Piano asal Surabaya, Indonesia yang luar biasa yang dapat memainkan lagu pop yang basic nya adalah sangat sederhana, namun dapat dimainkan menjadi suatu komposisi yang kompleks dengan pengembangan pengembangan harmoni serta Improvisasi yang luas, namun yang menarik tidak membuat lagu tersebut menjadi sulit dicerna. Lagu tersebut tetap harmonis dan bisa dinikmati bahkan menambah keindahan diluar apa yang kita bisa bayangkan baik bagi orang yang awam maupun musisi sekalipun.
Itulah pertama kali saya secara pribadi melihat langsung sosok beliau, permainan beliau yang luar bisa, dan "benar-benar jago" kalau orang awam menyebutnya. Dan memang saya begitu takjub saat itu, terpesona dengan Improvisasi Spontan yang beliau lakukan terhadap lagu tersebut. Dan Jazz bukanlah semata soal lagunya, Namun Jazz ada dalam diri Manusianya, sang Player. Dan para senior Jazz tahu, kalau Jazz makin didalami musik dan sejarahnya kita akan menemukan bahwa Jazz adalah sikap Hidup dan "Jazz Talk about Attitude", dan kesemuanya tersirat dalam permainan seorang Bubi Chen malam itu.

Memang ada lagu yang benar-benar Jazz, yang dirangkum dalam buku "Real Book Jazz Vol.1 dan 2" tapi selanjutnya Jazz tidak kaku, Jazz bergerak luwes mengikuti perkembangan Jaman, malam itu adalah buktinya lagu yang benar benar pop yang basicnya hanya 3 Chord dapat dimainkan secara Jazz oleh sang Maestro Kita Bubi Chen dengan sangat luar biasa, Dan sangat Menghibur. Harusnya demikian "Jazz juga dapat menghibur bukan ?"

Namun yang perlu dicatat dan digaris bawahi dengan sangat Tebal …. Adalah yang memainkan lagu tersebut adalah seorang Bubi Chen. Pianis Jazz kelahiran Surabaya Indonesia 9 Februari 1938, yang Majalah Jazz terkemuka "Down Beat" dari Amerika Serikat pernah menyebut beliau adalah Pianis terbaik di Asia, dan pernah ada suatu pooling "Critics pool 1968" mengenai 5 Pianist terbaik didunia menghasilkan 1. Bill Evans 2. Oscar Peterson 3. Art Tatum 4. Bubi Chen 5. Herbie Hancock. Luar Biasa seorang Pianis dari Indonesia, bisa mencapai prestasi seperti itu, dan bukan main-main namanya disandingkan dengan nama nama besar di dalam dunia Jazz.

Dan di Indonesia sendiri pada tahun 2004 beliau pernah menerima penghargaan Satya Lencana Pengabdian Seni dari Mantan Presiden Megawati, setahun kemudian pada tahun 2005 Peter F. Gontha pada Java Jazz Festival pertama memberikan penghargaan sebagai musisi "Jazz Living Legend" kepada Bubi Chen. Dan di kota asalnya sendiri beliau juga mendapatkan Live Achievement Award dari Gubernur Jawa Timur, karena dinilai telah memperkenalkan kota Surabaya ke dunia Internasional melalui Musik Jazz

Luar biasa bukan, dan banyak lagi penghargaan yang tidak dapat di tulis satu persatu dalam tulisan ini karena begitu banyaknya penghargaan yang pernah beliau raih.

Salah satu rekan bermainnya seorang Drumer Swing terkemuka "Benny Mustapha" yang pernah bermain bersama beliau di Berlin Jazz Festival pada Tahun 1967, pernah mengatakan kalau Bubi Chen, memang "Good Player", the Real Player, tidak terlalu banyak basa basi, banyak berbicara lewat note note indah yang keluar dari tuts pianonya, dan Almarhum Bubi Chen memiliki rasa humor yang tinggi yang dicerminkan dalam permainannya yang kadang tidak terduga, memasukkan lagu lain didalam improvisasinya dengan sangat tidak terduga. Sikap Humoris ini diakui pula oleh salah satu muridnya Yohanes Gondo pianis asal Surabaya yang punya kesempatan belajar langsung kepada sang Maestro. Namun Bubi Chen sebagai pengajar adalah seorang guru yang Keras, Disiplin, Konsisten dan sangat perhatian terhadap perkembangan kemajuan muridnya, bahkan perhatian pula terhadap hal hal seperti Muridnya mau makan apa dll. Dan murid murid yang pernah belajar terhadap beliau merasakan ketika belajar bersama beliau tidak hanya sekedar beliau musik atau piano, tapi belajar juga tentang hidup.

"Jangan belajar Piano, belajarlah music, Jangan sekedar belajar Musik belajarlah tentang Hidup. Dan jadilah bermanfaat dengan musik mu untuk orang lain" rasanya Phylosofi ini dipahami dan diterapkan betul oleh Beliau.

Dari semua penghargaan yang beliau terima, sudah sangat jelas kalau beliau memang seorang Virtuoso Piano, dan sudah diakui Dunia. Hal ini sangat membanggakan, karena begitu banyak pianis Hebat di Indonesia, di Asia, tapi seorang Bubi Chen bisa diakui di Dunia, dan namanya disandingkan dengan Pianis Pianis Jaz dunia lainnya. Ayahnya Tan Khing Hoo yang juga pandai menggesek biola menyerahkan Bubi Chen pada usia 5 tahun kepada Di Lucia Guru Piano berkebangsaan Italia "entah bagaimana cara Di Lucia mengajari saya" ujar Bubi Chen, padahal beliau saat itu belum bisa membaca apalagi membaca not balok, tapi saat itu Bubi Chen kecil sudah bisa memainkan Piano. Kemudian dia belajar Klasik pada Josef Bodmer, guru piano berkebangsaan Swiss yang pelajarannya lebih menekuni karya karya dari Mozart, Beethoven, dan Chopin. Namun suatu ketika Bubi Chen pernah tertangkap basah memainkan sebuah lagu Jazz, gurunya yang terkenal sangat disiplin dan keras itu tidak marah anehnya, dapat merasakan kalau Jiwa seorang Bubi Chen ada didalam Jazz, malah mengatakan "saya tahu Jazz adalah duniamu yang sebenarnya, perdalamlah musik itu" . Dan selanjutnya Bubi Chen belajar Jazz secara otodidak secara kursus tertulis, pada tahun 1955-1957 pada Wesco School of Music New York. Diantara guru kursus tertulis tersebut terdapat Teddy Wilson murid tokoh Swing Terkenal yang dijuluki "Father of Swing" Benny Goodman Komposer dan pemain Clarinet. Dan memang kesukaannya akan Jazz juga dipengaruhi oleh Saudara Saudara nya yang juga bermain Jazz, dan sudah menjadi Jazzer ternama di Surabaya pada saat Bubi masih Kecil. Jopie dan Teddy Chen. Bahkan Chen bersaudara ini adalah keluarga besar Jazz yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan musik Jazz di Surabaya Teddy Chen (Piano), Nico (Drum), Jopie Chen (Bass), dan Trio juga dibantu oleh Albert Chen yang memainkan Gitar ala Charlie Christian, Leo Seghers (Saxophone), Lattuperisa dan Andi Syaifin (Saxophone)

Dan Bubi Chen juga sangat produktif dalam industri rekaman tidak kurang dari 36 album semasa hidup nya pernah di keluarkan, dan salah satu albumnya " Bubi Chen and His Fabulous 5 (Irama), 1962 masuk kedalam 150 Album Terbaik Indonesia versi Majalah Rolling Stone. Interprestasinya terhadap lagu "Blue Bossa" karya pemain Trumpet Kenny Dorham sangat luar biasa, itulah rekaman studio yang pertama kali saya dengar, dan masih banyak lagi lagu yang beliau mainkan yang bisa kita simak yang menunjukkan kepiawaian beliau. Meskipun Demikian tidak bisa dipungkiri Rekamannya bersama Indonesian All Star "Djanger Bali" adalah yang paling Fenomenal dan sudah menjadi koleksi langka, Album ini diproduseri oleh Joachim Ernest, dan berisikan lagu-lagu antara lain "Djanger Bali", "Mahlke from 'Katz Und Maus", "Gambang Suling", "Ilir Ilir", "Burung Kakak Tua" dan "Summertime"

Rekaman itu, dan konser Indonesian All Star di Berlin sangat berarti sekali mengangkat nama Indonesia, Budaya dan Jazz Indonesia ke pentas Jazz Internasional. Dan Nama nama yang ikut tampil dalam Indonesia All Stars seperti Jack Lesmana (Guitar), Maryono (Saxophone), Benny Mustapha (Drum), Jopie Chen (Bass), Bubi Chen (Piano) adalah para Pelaku Sejarah Jazz di Indonesia yang sepak terjangnya benar benar sangat memberikan arti bagi perkembangan Jazz Indonesia hingga kini. Dan ikut bermain pula disini Tony Scott Klarinetis asal Amerika Serikat.
Penyuka lagu Cantaloupe Island dan Body and Soul ini memang bukan pianis biasa, Bubi Chen memang sudah seperti terlahir untuk Musik dan Jazz, Permainan Piano bergaya Ragtime pada lagu "Tiger Rag" nya sangat selalu ditunggu tunggu oleh para Jazzer dan rekan-rekannya di Surabaya baik dari generasi yang terdahulu maupun generasi kini, dan memang pastinya ditunggu juga oleh para Jazz setanah air. Boleh dibilang beliau adalah pemusik, Pianis yang Komplit, Lengkap, menguasai banyak gaya permainan dari Ragtime, Swing, Bebop hingga Modern, dan menariknya selalu punya banyak gaya untuk sebuah lagu, banyak yang menyaksikan betapa begitu banyaknya Variasi Bubi Chen memainkan lagu Cantaloupe Island dengan style yang berbeda beda. Dan begitu banyak yang tercengang ketika menyaksikan beliau memainkan lagu yang sederhana seperti Naik naik kepuncak gunung atau Burung Kakatua menjadi sebuah Komposisi yang kompleks menakjubkan namun tetap harmonis terdengar, begitu luas ilmu beliau, dari penguasaan teknis hingga Ilmu Harmoni di tambah Imaginasi yang tanpa Batas.

Kita semua begitu kehilangan beliau, Figur Jazz Indonesia, Pianis Virtuoso yang Komplit yang begitu banyak menguasai ilmu harmony, rhythm serta style didalam permainan piano dan musik, seorang Guru yang bertangan dingin dan menghasilkan begitu banyak Murid yang andal yang nantinya dapat mengharumkan nama Indonesia. Tidak banyak Basa basi, Bubi Chen berbicara lewat permainannya, lewat note note nya, Permainannya adalah sebuah magnet yang menarik Perhatian Dunia. Apalah jadinya jika di waktu lalu "Ketika beliau dan rekan rekannya berjalan jalan ke Madura untuk mencari objek untuk Foto sebagai salah satu hobinya, dan ternyata terjadi kecelakaan yang cukup parah yang menyebabkan beliau gegar otak ringan, dan saat terjadi kecelakaan beliau sempat tersadar dan dalam kesadaran tersebut beliu hanya langsung berfokus pada tangannya, "apakah bisa digerakkan ?" usai itu setelah yakin tangannya masih dapat berfungsi dengan baik, lalu beliau pingsan lagi "dalam hati berujar "yang penting masih bisa main Piano …. Begitu cintanya beliau terhadap Piano dan Musik, Dan kecintaan serta konsistensi itulah yang membuat Bubi Chen akhirnya mempunyai nama Besar, yang begitu mengharumkan Nama Besar Jazz Indonesia.

Dan kini anak bungsu dari 8 bersaudara itu, Sang Maestro telah meninggalkan kita, sekali lagi kita semua sangat kehilangan "My heart is broken... We just lost the first and greatest Modern Jazz Pianist this Country ever had... Rest In Peace Oom Bubi Chen," tulis Indra Lesmana yang dikenal cukup dekat dengan almarhum selama hidupnya.
Sekali lagi lewat permainannya yang luar biasa, berbicara banyak hal, menyumbangkan banyak hal, memberikan begitu banyak inspirasi, ide ide bagi pemain lainnya. Lewat permainannya mengharumkan kota asal nya, Mengharumkan nama bangsa, tidak mudah mencapai apa yang telah beliau capai baik dari sisi teknis sebagai pemain piano maupun dari segi prestasi. Namun kita juga tidak bisa larut terus dalam kesedihan, larut terus dalam masa lalu, bukan itu juga yang diinginkan beliau pastinya. Terbukti dengan begitu kerasnya beliau mendidik murid muridnya, beliau ingin ada Regenerasi, beliau ingin ada Jazzer Indonesia yang bisa mengharumkan nama Bangsa. Sudah mulai banyak Jazzer muda kita yang kini punya kesempatan untuk belajar di Sekolah Sekolah music bertaraf Internasional dan Terkenal di Dunia, dan Event Jazz yang bertaraf nasional maupun Internasional pun mulai banyak di negeri kita, serta kini sudah ada tidak kurang dari 16 Komunitas Jazz di Indonesia, Hayukkk Bangkit, Ambil semangatnya, terus belajar, terus berkarya niscaya kita akan dapat melahirkan Bubi Chen, Bubi Chen lainnya… Meskipun Tidak akan pernah ada yang sama persis dan memang bukan itu yang diharapkan oleh Jazz bukan ? karena Bubi Chen tak tergantikan. Namun dengan sebuah konsistensi yang dilakukan oleh semua Pihak bukan tidak mungkin ada Jazzer Indonesia yang bisa mencapai prestasi seperti apa yang telah beliau capai, dan Om Bubi biasa saya memanggilnya akan tersenyum bahagia di Surga sana ….

Salam Jazz
Beben Jazz
(Ketua dan Pendiri Komunitas Jazz Kemayoran,
Dosen Musik di Universitas Pelita Harapan

DISKOGRAFI

Bersama Jack Lesmana:
- Djanger Bali (SABA) 1967
- Jazz Masa lalu dan Masa Kini (Hidayat) 1976

Album Studio:
- Bubi Chen & Kwartet - (Lokananta, 1959)
- Bubi Chen and His Fabulous 5 - (Irama, 1962)
- Bubi Chen - Buaian Asmara (1967)
- Lagu Untukmu - (Irama, 1969)
- Bila ku ingat (Bubi Chen With Strings)" - (Irama, 1969)
- Margie Segers & Bubi Chen "Terpikat" (Hidayat, 1975)
- Mengapa Kau Menangis - (Irama Tara)
- Just Jazz - (Virgo Ramayana)
- Mr. Jazz
- Instrumental Piano - Pop Indonesia (Nirwana)
- Bubi Chen Plays Soft and Easy (Atlantic Records, 1977)
- Musik Santai (Atlantic Records)
- Jazz Meeting Vol.1 - Recoding Live In Bandung (Hidayat)
- Rien Djamain & Jack Lesmana Combo - "Telah Berlalu"
- Selembut Kain Sutera - (Hidayat)
- Kau Dan Aku - (Hidayat)
- Bubi Di Amerika - (Hidayat 1984)
- Kedamaian - (Hidayat, 1989)
- Bubby Chen and his friends - (Bulletin, 1990)
- Virtuoso - (Legend Records, 1995)
- Jazz The Two Of Us - (Legend Records, 1996)
- Judge Bao - (Legend Records, 1996)
- Romantiques - The Way We Were (Legend Records, 1996)
- Mei Hua San Lung - (Legend Records, 1997)
- Nice 'n Easy - My Way (Legend Records, 1997)
- Nice 'n Easy - Love Me Tender (Legend Records, 1997)
- Nice 'n Easy - What a Wonderful World (Legend Records, 1997)
- Romantiques - Monalisa (Legend Records, 1997)
- Romantiques - All I Am (Legend Records, 1997)
- A.S.I.C. Australia Singapore Indonesia Connection - (Legend Records, 1998)
- The Many Collours of Buby Chen
- Bubi Chen Plays Rock
- Best Of Me;; - (Platinum, 2007)
- Wonderful World - (Sangaji Music)
- Buaian Asmara - (DeMajors, 2007)

Suka halaman ini? Beritahu teman: