Home > Beben Jazz Management > Band Managed > ABODA

ABODA

ABODA ialah sebuah band instrumental asal Jakarta yang musiknya dipengaruhi oleh nuansa light jazz, fusion, dan black music. Walaupun konsep utama band ini adalah instrumental, akan tetapi seringkali merekapun membawakan lagu-lagu dengan vokal. Beranggotakan Timotius Noya (piano & keyboard), Fanuel Noya (drum), Filemon Noya (gitar), dan Clement Noya (bass), band ini lahir dari pengaruh musik gospel yang kuat. Kata "aboda" sendiri diambil dari sebuah kata baku dalam bahasa Ibrani (Semit) yang memiliki arti "mengabdikan diri".

Empat bersaudara yang memang sejak usia dini belajar musik secara formal ini, aktif terlibat dalam beberapa penyelenggaraan event rohani sejak format band ini mulai terbentuk tahun 1999. Ketertarikan mereka membuat ulang aransemen lagu-lagu lama -khususnya lagu hymn- dan kecenderungan kalangan muda menganggap usang lagu-lagu tersebut, merupakan awal dari terciptanya gagasan visi dan misi band ini. Menurut ABODA, seringkali kemasanlah yang harus menjadi perhatian utama dari sebuah karya musik. Hal ini ditunjukkan mereka salah satunya dengan berhasil menjadi juara pertama dalam Psallö Christian Music Festival 2004 di Bogor -kala itu band ini masih bernama Worshippers. Ajang tahunan tersebut mencari bakat-bakat musik dan memang lebih menitikberatkan pada song arrangement yang kreatif.

Di tahun 2006, label Victorious Music Jazz menawarkan ABODA untuk masuk dapur rekaman, walaupun saat itu materi lagu yang band ini miliki sangat terbatas. Akhirnya, pada Juni 2007 album perdana mereka yang bertajuk "Today in Paradise" itu pun dirilis. Album ini bermaterikan empat buah lagu karya sendiri, serta enam buah lagu yang sudah cukup dikenal. Beberapa lagu seperti "Extricate" dan "Vida Eterna" menunjukkan nuansa fusion dan light jazz yang cukup kental. Sedangkan "One Way" -satu-satunya lagu yang dibawakan dengan vokal- hadir dengan sentuhan soul yang dirasa sangat berbeda dengan aransemen aslinya. Juga beberapa lagu hymn dikemas sedemikian, sehingga dapat membawa kesegaran baru di telinga para pendengar. Yang menarik yaitu hampir semua lagu di album ini disajikan tanpa suara-suara digital agar kesan live music-nya tetap terdengar. Kisah dan pesan yang melatarbelakangi setiap lagu pun menjadi hal yang menarik untuk disimak. Pada tahun 2008, album ini berhasil meraih penghargaan The Best Instrumental Album pada ajang Indonesian Gospel Music Award 2008.

Pada Desember 2009, ABODA merilis sebuah album repackage berlabel indie. Album bertajuk "Lite Edition" ini bermaterikan lima lagu dari album pertama serta satu lagu baru yang mendapat sedikit sentuhan nuansa etnik -berjudul "Journey to the Fatherland". Lagu instrumental ini menceritakan tentang perjalanan pulang ke kampung halaman.

Selain itu, mereka pun kerap membawakan lagu-lagu yang dikenal di kalangan umum dan beberapa standard jazz yang tentunya dihadirkan dengan gaya ABODA.

Tidak hanya di kalangan rohani saja, ABODA pun tampil dalam berbagai event musik umum, seperti "Christmas with ABODA" (EX Plaza Jakarta), "Sunday Breakout!!" (FX Lifestyle X'nter Jakarta), Komunitas Jazz Kemayoran (KJK), Margo Friday Jazz Depok, Jazztaga! Friday Jazz Night Bogor, Jazz Vaganza Pekan Raya Jakarta 2011, Sunday Klab Jazz at Dago Plaza Bandung, The Jazz Chronicles : A Journey Towards Java Jazz 2012 di Rolling Stones Café Kemang, Java Jazz On The Move 2012 Teraskota BSD, Java Jazz On The Move 2012 Hotel Borobudur, Margo Experience at RedWhite Lounge Kemang, Jakarta International Java Jazz Festival 2012, 8-11 Show Metro TV, Klab Jazz TVRI, Sunday Klab Jazz at Plate For Me Café Bandung, Jazz Goes To Campus 2012, Java Jazz On The Move 2013 Teraskota BSD, Java Jazz On The Move 2013 at Margo Friday Jazz, Jakarta International Java Jazz Festival 2013, Jazz On Culinary Bintaro, Batavia Jazz, di pentas-pentas seni, wedding home-band, dan lain sebagainya. Selain itu para personelnya pun aktif pula membagi ilmu bermusik dalam berbagai kesempatan music workshop dan juga mengajar. Dan sekarang, ABODA lebih luas hadir sebagai teman untuk berinspirasi dan berekspresi bagi para penikmat musik di berbagai macam kalangan yang ada.

Profil Personel

Piano & Keyboards

Nama Lengkap : Timotius Noya
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta/4 maret 1983
Posisi : Piano & Keyboards
Tinggi/Berat Badan : 168 cm/71 kg
Musisi Favorit : Bob James, David Foster, Craig David, Kirk Franklin

Perkenalan Timotius dengan dunia musik cukup unik. Awalnya yaitu pada usianya yang masih sekitar 3 tahun. Ketika itu Fanuel -adiknya dihadiahkan sebuah keyboard mainan sebagai hadiah ulang tahun. Akan tetapi malahan ia yang tertarik memainkannya. Iapun kemudian dapat memainkan lagu anak-anak tanpa ada yang mengajarinya terlebih dahulu. Melihat bakat inilah, kedua orangtuanya memutuskan untuk menyekolahkannya di sekolah musik Yamaha pada usia 5 tahun untuk belajar keyboard. Kemudian ia terus melanjutkan belajar piano klasik hingga tahun 2000.
Musiknya sangat dipengaruhi oleh Bob James -pemain piano band jazz Fourplay. Chord, alunan melodi yang manis, dan tekniknya yang luar biasa menjadi daya tarik tersendiri untuk Timotius. Selain itu keindahan komposisi musik David Foster pun juga menjadi favoritnya. Dan seperti personel ABODA lainnya, iapun sangat dipengaruhi oleh black music.
Sulung dari 4 bersaudara ini semenjak dini memang telah aktif dalam banyak kesempatan acara-acara musik -khususnya rohani. Iapun aktif dalam mengajar piano untuk semua kalangan usia. Dan juga beberapa kali menjadi juri -secara pribadi dan juga bersama ABODA.
Penyuka warna hijau ini sangat memperhatikan sound-sound yang dipakainya dalam menciptakan nuansa yang pas dan cocok dalam sebuah lagu, agar pesan yang ingin diutarakan dapat tersampaikan. Dan bukan hanya itu, tapi menurutnya, cara memainkan piano dan keyboard sangat berperan penting untuk keberhasilan sebuah harmonisasi dalam sebuah band.

 

Drum

Nama Lengkap : Fanuel Noya
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta/30 April 1984
Posisi : Drum
Tinggi/Berat Badan : 170 cm/68 kg
Musisi Favorit : Akira Jimbo, Dennis Chambers, Thomas Pridgens, Tom Brooks

Berbeda dengan tiga saudaranya yang lain, Fanuel tidak mengawali pendidikan musiknya dari belajar piano. Ia langsung belajar drum sejak usia 7 tahun. Dan tahun 1994, ia lulus dari sekolah musik Yamaha sebagai siswa drum termuda yang menyelesaikan pendidikan di sekolah musik tersebut. Baru setelah itu ia belajar piano klasik pula.
Anak kedua dari 4 bersaudara ini sangat dipengaruhi oleh Akira Jimbo oleh karena kecepatan dan intelegensia pemain drum asal Jepang itu. Selain itu, permainan drum Fanuel pun sangat kental bernuansa black music (gospel), dengan pukulan-pukulan beat yang khas dan terkadang tak terduga. Baginya, rhythm section yang "beres" menjadi hal yang penting dalam membuat sebuah komposisi lagu. Drummer yang satu ini pun sangat memperhatikan unsur melodi dalam bermain musik -hal yang tak lazim mengingat drum bergerak di alur ritmis. Dalam hal ini ia sangat mengagumi permainan keyboard Tom Brooks. Oleh karena itu, ia sering disebut sebagai drummer yang melodis.
Penyuka keteraturan ini aktif mengajar drum dalam kesehariannya. Oleh karena itu pula, membaca not tidak menjadi suatu kesulitan, bahkan menjadi suatu standard tertentu dalam bermain musik menurutnya. Bagi dia, ketekunan dalam latihan itu sangat penting bagi pemusik yang ingin mencapai hasil yang lebih baik.

 

Gitar

Nama Lengkap : Filemon Noya
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta/11 Juni 1985
Posisi : Gitar
Tinggi/Berat Badan : 170 cm/70 kg
Musisi Favorit : Lee Ritenour, Paul Jackson, jr., Issei Noro, Israel Houghton

Awal dari perjalanan musiknya dimulai sejak berusia 5 tahun saat ia disekolahkan di sekolah music Yamaha oleh orangtuanya. Alat musik pertama yang dimainkannya adalah keyboard. Tiga tahun kemudian melanjutkan belajar piano klasik, juga di Yamaha. Kemudian baru setahun kemudian sambil belajar piano, ia pun belajar gitar klasik di Yamaha. Beberapa tahun kemudian, barulah ia mengenal bermain gitar elektrik. Dan sampai sekarangpun masih terus aktif bermain piano. Bahkan mengajar piano pula, selain gitar yang dikuasainya.
Filemon langsung jatuh cinta pada permainan gitar Lee Ritenour dari band jazz Fourplay saat pertama kali mendengarnya. Ia sangat tertarik pula oleh black musik karena menurutnya selalu memberikan kesegaran baru. Dan seperti pada umumnya para gitaris, penyuka warna oranye ini pun juga dipengaruhi oleh musik blues dan mengaku memiliki sisi rock dalam bermusiknya. Kesemuanya itu menjadi modal baginya untuk mencetuskan ide-ide awal dari melodi lagu yang hendak diciptakan selanjutnya.
Pada awalnya anak ketiga dari 4 bersaudara inipun sangat fanatik terhadap gitar akustik serta agak anti terhadap efek gitar -karena terbiasa sejak belajar gitar klasik. Namun dalam 5 tahun terakhir justru sangat tertarik dengan efek-efek gitar.
Gitaris yang kerap dipanggil File ini bermimpi agar suatu hari dapat membuat album solo. Bersama ABODA, iapun yakin bahwa band ini dapat menjadi sebuah band yang menghadirkan suasana baru di blantika musik serta berdampak bagi para penikmat musik yang ada.

Bass

Nama Lengkap : Clement Noya
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta/19 November 1988
Posisi : Bass
Tinggi/Berat Badan : 170 cm/68 kg
Musisi Favorit : Abraham Laboriel, Marcus Miller, Victor Wooten, Jaco Pastorius

Bungsu dari 4 bersaudara ini adalah yang termuda dalam memulai pendidikan musik. Ia belajar piano di Yamaha saat berusia 3,5 tahun. Dan terus melanjutkannya hingga berusia 12 tahun. Faktanya, ia tidak pernah belajar bass secara formal. Perkenalannya dengan alat musik ini dimulai saat posisi bass saat itu masih dipegang oleh Filemon. Karena Clement hanya menyanyi saja, sang ayah menyuruh File agar mengajar adiknya bermain gitar, agar kelak nantinya juga dapat bermain musik di band (saat itu hanya bertiga saja yang bermain musik) dan menjanjikan sebuah gitar sebagai hadiah kalau si adik dapat bermain gitar. Akhirnya dalam waktu yang cukup singkat, Clement pun dapat bermain gitar. Sebuah gitar dihadiahkan kepada File. Akhirnya, kemudian posisi bass dipegang oleh Clement sejak tahun 1999. Dan sejak itu pulalah formasi ABODA tidak berubah hingga sekarang.
Bassist yang kerapkali juga berperan sebagai vokalis ini dipengaruhi pertama kali oleh Abraham Laboriel. Kemudian perkenalannya dengan permainan Victor Wooten, Marcus Miller, dan Jaco Pastorius membuat sebuah konsep bermain bass yang utuh dengan teknik yang kompleks -tidak hanya sebagai pengiring saja, tetapi berperan pula sebagai melodi utama dan fungsi-fungsi dalam band lainnya. Oleh sebab itu, dalam permainannya, pemain bass yang kerap dipanggil Cle ini sering mendapat porsi solo yang setara dengan instrument lainnya.
Cle pun juga sering tampil sebagai session player homeband di sebuah acara televisi swasta. Selain itu ia aktif mengajar musik dan juga berperan sebagai sound engineer dalam beberapa proyek rekaman ABODA -karena ketertarikannya di bidang tersebut.

Contact: Beben Jazz Management, Hp.085691736166.

Lihat juga Beben Jazz Management: About | Bands Managed

Suka halaman ini? Beritahu teman: