Home > Komunitas Jazz Kemayoran > Report > Report Komunitas Jazz Kemayoran Ke-023

Report Komunitas Jazz Kemayoran Ke-023

"Wah, ternyata pertemuan bulanannya KJK rame banget ya! Asyik... asyik... Kalo ada nonton jazz gratis, dengan penampil yang berkualitas kayak begini, tiap bulan rutin lageee... gue bakal makin cinta deh sama jazz," aku Rudi, yang bersama lima orang temannya pertama kali datang ke pertemuan bulanan KJK.

Pengakuan Rudi ini bisa jadi dirasakan juga oleh beberapa KJKer lain (sebutan untuk temen2 yang bergabung di Komunitas Jazz Kemayoran, baik yang baru maupun para founder-nya) yang datang, baik yang baru pertama datang, yang kedua kalinya, ke lima kalinya, atau bahkan yang emang tiap bulan langganan datang. "Gue udah yang ketiga kali nih, malah sempat manggung di pertemuan bulan lalu. Wuah memang makin rame ya," ujar Bobby, pianis lulusan UPH yang bakal berangkat ke luar negeri memperdalam musiknya (pasti jazz juga kan Bob? hehehe). Terlihat teman-temannya ikut mengangguk tanda setuju atas ungkapan Bobby.

"Apa yang dibutuhkan jazz di negeri ini, ada semua di KJK. Musisi-musisinya dari berbagai generasi, senior-junior gabung semua. Ada edukasinya, baik sejarah maupun teori jazz. Performer-nya juga menampilkan jazz dari berbagai aliran, dari swing sampai fusion. Dan yang lebih penting, komunikasi benar-benar terjadi di antara audiens (baca: KJKer), baik hanya sekadar penikmat sampai ke musisinya. Seperti yang dibilang Mas Beben, semua demi kepentingan kemajuan jazz di Indonesia juga kan?" komentar pak Agus, seorang pengamat musik juga bisnisman di musik sejak 11 tahun lalu.

Yoi pak, memasuki usia ke 2 tahun ini, KJK memang makin besar, makin kompak, makin beragam, dan pastinya makin berusaha mewujudkan visi misinya sebagai komunitas yang ikut memajukan jazz di Indonesia. Dari sekadar pertemuan kecil yang dihadiri tak lebih dari 10 orang dua tahun lalu, hingga di pertemuan ke-23 tanggal 31 Maret lalu (cihuuyyy, bulan depan ultah!) di Gambir Expo PRJ Kemayoran yang dipenuhi lebih kurang hampir 200an temen2 KJKer. Agendanya tetap diisi hal-hal wajib KJK, yakni showcase (kali ini diisi 5 performers), sharing edukasi, dan jam session. Selain itu juga ada 'Jazz Quiz' yang juga mulai rutin diadakan di tiap pertemuan bulanan.

Acara ini dipandu Beben SM sendiri, dengan mengajukan pertanyaan2 seputar jazz ke audiens, dan yang berhasil akan mendapatkan hadiah (malam itu hadiah berupa 2 CD kompilasi jazz dari EMI, dan 4 kaset Phil Woods, Bob James Trio, John Scofield, dan Tribute to Miles Davis). Juga ada yang baru: kini di tiap pertemuan bulanan, kita enggak perlu kelaparan atau kehausan cari pakanan. Pihak PRJ menyediakan outlet-outlet komsumsi yang siap dibeli dengan harga terjangkau (namanya juga KJK, kalo perlu gratis yak... hehehe), plus minuman dan sekadar kripik2an sumbangan dari KJKer juga, seperti dari Boss Benjamin (yang datang full team bersama istri dan tiga anaknya) yang rela berat-berat bawa minuman2 segar buat temen2. Thanks berat boss!!!! Juga di tiap bulan, kini selalu tersedia meja merchandise yang berjualan kaos, pin, stiker, hingga CD dan DVD jazz dengan harga lebih murah hingga 70% dari harga di toko (Mas Pram, jangan bosen2 ya hadir di KJK!). Wuah, sepanjang acara meja ini
termasuk rame dikunjungi KJKer silih berganti.

Acara sebenarnya sudah dibuka Beben sejak jam 19.00 WIB. Tapi memang tidak diisi langsung oleh penampilan band, tapi lebih ke acara ngobrol-ngobrol antara KJKers. Maklum, selain banyak muka baru yang harus saling kenal (kebanyakan baru kenal lewat milis KJK - komunitas_jazz_kemayoran@yahoogroups.com), juga banyak yang punya kepentingan tukar informasi, tukar koleksi, dan sebagainya. Dan barulah jam 20.00 lewat dikit, acara showcase dibuka dengan penampilan Jazzyphonic. Band berpersonel lima musisi belia usia SMU-mahasiswa (kibordis, gitaris, basis, drumer, dan saksofonis) ini tampil dengan karya-karya sendiri yang memiliki warna fusion begitu kental. Bahkan di beberapa lagu, kelompok peraih juara 1 Jazz Goes To Campus 2004 tersebut sempat memasukkan unsur etnik Bali yang dicampur dengan ritmis Brazillian yang tetap dalam koridor funky yang tebal.

"Kok mainnya enggak serapih waktu tampil di ultah KJK tahun lalu ya?" komentar Ratna terhadap performa Jazzyphonic malam itu. Yap, kelompok ini memang pernah tampil di acara ultah KJK 2005 lalu. Namun menurut kami bukan persoalan rapi atau tidak rapi, tapi malam itu Jazzyphonic terlihat lebih matang dan ekspresif. Apalagi saat masing-masing mengisi ruang solo yang disediakan dengan improvisasi yang cukup baik (malam itu yang terbaik dari grup ini menurut beberapa audiens adalah solo drumnya). Kebebasan ekspresi itu mungkin yang dirasa Ratna sebagai 'tidak rapi'. Tapi mungkin menurut beberapa orang lain, justru kebebasan ekspresi atau 'ketidakrapian' itu yang membuat Jazzyphonic terdengar lebih matang dalam bermain jazz. Ini juga membuktikan, bahwa jazz memungkinkan orang sah-sah saja menyimpulkan apapun sebagai hasil intepretasinya atas permainan sebuah grup jazz. Yang pasti, inilah grup yang bakal besar dan ikut meramaikan kancah jazz Indonesia. Kalo mereka bikin album,
beli yak....

Ke-gegap gempita-an musik Jazzyphonic (yang bisa bikin Mas Iman berdebar-debar :p), langsung diguyur keademan warna swing yang dibawakan secara tunggal oleh Imada (gitar+vokal). Nomor-nomor standar macam Beyond The Sea serta This Masquarade karya Leon Russell (doi juga yang menciptakan komposisi vokal susyeh, Moody's Mood) yang dipopulerkan George Benson, langsung memberi atmosfir yang beda sama sekali. "Saya langsung terasa adem... damai... ketika Imada tampil," ujar Mas Iman di saat membuka presentasinya.

Dengan bermodalkan gitar semi-akustik dan vokal agak-agak nge-bariton, Imada menyihir audiens (gak heran ada beberapa penonton yang meminta dia main sulap juga, keahliannya yang lain selain bernyanyi dan main gitar) hingga ikut larut menikmati vokal, permainan gitarnya yang ciamik, plus scat singing-nya saat berimprovisasi. Empat jempol sampe mao jatuh deh buat Imada!

Showcase kemudian diselingi sekitar setengah jam sharing edukasi tentang Brazillian Jazz oleh Mas Iman Budi Santoso (IBS). Salah seorang founder KJK yang juga Pegawai BUMN yang ngelotok banget soal musik-musik Brazillian ini, banyak bicara dari A sampai Z soal musik dari negerinya Ronaldo tersebut. "Oh gitu ya... wah ternyata yang benar itu... musik kayak itu ternyata namanya Choro ya, baru tau gue..." jadi komentar-komentar yang sering keluar dari mulut audiens sepanjang presentasi IBS. Yap, kita bener-bener dibuat melek tentang Samba, Bossa Nova, MPB, dan keluarga besarnya. Termasuk bahwa sebenarnya musik latin itu luas banget, tak hanya yang dari Brazil, tapi juga Cuba, Spanyol, negeri-negeri di Amerika Latin, dan sebagainya. Asyiknya lagi, setiap IBS menerangkan sebuah genre dari Brazillian Music, maka ia akan memberi contoh lagu yang memiliki atau memainkan genre tersebut. Jadi jelas banget perbedaan antara genre plus gaya-gaya turunannya. Enam jempol (dua minjem
jempol temen sebelah) buat IBS dah! Gak percuma deh kalo Mas kita satu ini pernah motret bareng Toot Thielmans, bersahabat dengan para musisi Brazil terkenal, bahkan beberapa kali mendatangkan musisi Brazil untuk tampil di Indonesia, seperti Toninho Horta tahun lalu.

Audiens gak diberi jeda sedikitpun! Begitu IBS turun, langsung 3in1 menggeber Gambir Expo dengan komposisi-komposisi berwarna post bop. Trio ini dimotori Krisna (seorang pianis lulusan Australia, selama ini dikenal sebagai musisi studio membantu banyak musisi lain), ditemani Mark pada semi-akustik bass (silent bass yang mirip digunakan Sting atau Tetsuo Sakurai, instrumen yang menggunakan pola contra bass, tapi memiliki desain lebih ramping dan telah dilengkapi sistem amplifier integrated bak instrumen elektrik) dan tentu saja drumer idolanya KJKer, Zulham.

"Hm... kayaknya gue kok familiar ya sama lagu ini..." bisik salah seorang KJKer saat mendengar salah satu komposisi berjudul Alexandrina karya Krisna. Wuah, KJKers emang kritis deh, kupingnya pada tajem-tajem yak. Ternyata memang komposisi yang ditulis Krisna untuk seorang cewek ini memiliki nada-nada plus progresi akor yang miriiiiiiip banget kayak Misty-nya Errol Gardner (terutama di form A-nya). Mungkin kalo hanya satu atau dua KJKers yang ngeh, atau itu hanya sekadar bagian dari ragam improvisasi bukan tema lagunya, masih bisa dipahami atau diiyakan. Tapi ternyata hampir semua audiens menyadarinya, dan hal-hal berbau plagiat itu ternyata tema lagunya! (huh, gak bisa sembarangan rupanya kalo manggung di KJK...... Hm mungkin tahun 1990, saat lagu itu dibuat, Krina lagi semangat-semangatnya ngapalin tema lagu Misty kali yak :p). Sayang emang, jadi sedikit 'mengotori' kemantapan penampilan 3in1. Next time jangan gitu lagi ya, kesian penonton yang udah pada seneng sama
penampilan mereka kan? Keep playin' better lah!

(to be continued... kayak pilem mini seri aja :p)

Lepas penampilan 3in1 yang memukau dengan empat komposisi post bop-nya, audiens langsung dihajar lagi dengan salah satu genre awal di jazz: swing dengan format big band. Kali ini grup dengan personel sekitar 16an orang (empat trumpet, lima saxophone, satu klarinet, tiga trombone, satu flute, dan tiga orang di rhythm section, satu kameramen, dan beberapa orang supporter) menggoyang pertemuan bulanan KJK ke-23 di Gambir Expo PRJ tanggal 31 Maret lalu. Big band bernama Van Alloy ini berpersonel para alumni ITB yang sebelumnya pernah bergabung dalam marching band kampus terkenal di Bandung tersebut. Jadi biar udah pada lulus, masing-masing udah jadi kuli pabrik (begitu mereka menyebut profesi mereka), tapi mereka keep on swinging!! T.O.P.B.G.T!!!!

Warna swing yang kental lewat komposisi klasik macam How High The Moon hingga My Favorite Things (diambil dan diolah ulang oleh John Coltrane dari soundtrack film legendaris Sound of Music), hingga komposisi bossa nova terkenal karya Antonio Carlos Jobim, Garota de Ipanema (alias Girl From Ipanema, yang kemudian diplesetin dengan gaya Jogja yang agak garing serta jayuz, tapi lumayan laaaah, menjadi Gadis dari Garut) dibawakan dengan mantap oleh teman-teman Van Alloy. Big band yang pernah tampil di pertemuan KJK ke-19 ini bermain cukup apik dan santai. Para KJKers turut melebur keasyikkan dalam irama swing yang tercipta dari big band ini (termasuk Dik Doank yang malam itu ikut hadir dan mengajak teman-teman KJK ikut dalam kampanye untuk pendidikan anak Indonesia. Tenang Dik, KJK support you penuh lah!). Padahal banyak personelnya (termasuk konduktor serta trumpetis andalannya) yang gak bisa ikutan manggung malam itu. Antara lain karena sakit juga sedang memanfaatkan
harpitnas dengan pulang kampung bersama keluarga :p

"Gue suka pas big band... gimana gitu... suasananya beda aja," tulis Imel (huaaah... akhirnya dateng juga neh si centik ke acara KJK) yang dikutip dari postingannya yang dikirim ke milis KJK setelah acara. Bisa jadi semua yang hadir setuju dengan pendapat Imel. Entah dari tampilan berpersonel banyaknya, atau dari warna musiknya, mungkin juga karena gaya personelnya yang nyantai, yang pasti atmosfir yang diciptakan Van Alloy memang berbeda dari para penampil sebelumnya. Gaya entertainer big band yang terakhir tampil di Festival Big band ITB awal Maret lalu memang membuat suasana begitu joyful, apalagi ditambah dengan tampilan DVD profil mereka yang diputar saat mereka sedang bersiap-siap (maklum, selain nyiapin instrumen musik, mereka juga kudu bawa kursi lipat sendiri ke panggung). Seru!!!

Akhirnya showcase mencapai penampil terakhir, tak lain dan tak bukan teman-teman dari Komunitas Musik Serpong yang ikutan meramaikan pertemuan KJK malam itu. Grup yang menjadi perwakilan komunitas tersebut dinamakan Jazzmatic, sebuah grup berformat sextet (gitar, bass, drum, kibor, trumpet, saxophone). Bila Van Alloy menawarkan atmosfir swingin' nan nyantai, maka grup yang personelnya kebanyakan berdomisili di BSD ini langsung menggebrak dengan komposisi berbasis blues 16-bar yang dibalut dengan nuansa funky begitu kental, sehingga atmosfir yang tercipta begitu fun dan groovy hingga membuat seluruh anggota badan otomatis ikut bergoyang.

Jazzmatic juga tak kalah menghibur dengan penampil2 sebelumnya. Pararel dengan warna musik yang diusungnya, para personelnya pun tampil begitu menghibur. Tiap kali mendapat giliran solo, tiap personelnya akan menyajikan berbagai teknik serta nuansa improvisasi yang khas. Apalagi bila giliran sang gitaris, maka audiens akan ikut larut dalam groove yang diberikannya, plus sunggingan senyum karena melihat gayanya yang begitu atraktif. Bermodal gitar fender stratocaster hitam-putih dengan sedikit efek dan permainan tremolo, sang gitaris meluncur cepat, dinamis, dengan merambah berbagai modes serta scale yang nikmat di telinga. Semua ditampilkannya dengan stage act menarik seakan doi sedang berasyik-masyuk, pacaran dengan gitar kesayangannya, dunia hanya milik ia dan gitarnya, yang lain cuma ngekos. Perfekto guys!

Sudah habis? Weits, ntar dulu jack! Masih ada jam session! Para KJKers yang datang banyak juga para musisi jazz muda yang handal, macam gitaris dan komposer muda Ricky Lionardi, contra basis bermasa depan cerah Joshua Arifin, para personel Tomorrow People Ensemble (Nikita, Indra, Adra, Zulham), gitaris swing muda Frankie Sirait, maestronya afro-cuban jazz di Indonesia Rio Moreno, drumer jazz mainstream Hendrawan, drumer jazz all-round dahsyat Taufan Iswandi, dan masih banyak lagi. Kalo sudah begini, ya mereka haruslah turut menyumbang ke panggung untuk berjam session. Dimulai dengan formasi Rio Moreno (piano), Nikita (gitar), Joshua (contra bass), dan Zulham (drum), membawakan karya klasik tiga komposer jagoan: Mercer, Kosma, dan Prevert lalu dipopulerkan pertama kali oleh penyanyi legendaris Nat 'King' Cole. Komposisi yang aslinya berwarna swing ballad ini, malam itu dikerjain abis jadi komposisi dengan nuansa afro-cuban yang kental.

Setelah itu berturut-turut Ricky Lionardi, produsernya album jazz yang menampilkan para musisi muda jazz Indonesia: Jazz Masa Kini, ikut naik mengisi segmen jam session tersebut. Para personel Tomorrow People Ensemble pun gak mau kalah, mereka langsung menggeber pertemuan KJK-23 ini dengan aya mereka yang khas. Keren mampus prens!

Setelah dilihat-lihat, ternyata segmen jam session ini seperti sebuah preview awal terhadap suasana Pertemuan KJK ke-24 bulan depan. Apa pasal? Kemungkinan besar mereka-mereka ini akan ikut menyumbang sebagai band-band yang tampil meramaikan Pertemuan KJK-24 yang juga merupakan perayaan ulang tahun Komunitas Jazz Kemayoran ke-2 (sekitar akhir April, tanggal pasti akan segera dikasih tahu lah). Yang pasti agenda acara, durasi acara, hingga ragam penampilnya akan jauh lebih istimewa ketimbang petemuan rutin bulanan (gile, yang rutin aja udah keren, apalagi kalo acara ultahnya yak... ck ck ck).

Lihat juga Komunitas Jazz Kemayoran: About | Report Kegiatan

Suka halaman ini? Beritahu teman: