Home > Komunitas Jazz Kemayoran > Report > Report Komunitas Jazz Kemayoran Ke-102

Report Komunitas Jazz Kemayoran Ke-102

By: Rully Resa

Awan mendung menutupi langit siang itu, cuaca disekitar wisma proklamasi masih mendung, Jalan Proklamasi basah sehabis hujan. Udara yang sempurna untuk sebuah acara pagelaran musik. Tanggal 27 oktober 2012, pertemuan Komunitas Jazz Kemayoran (KJK) yang ke 102 akan dilangsungkan. Serentetan acara sudah dipersiapkantidak hanya bagi musisi yang mengisi acara tersebut tetapi juga untuk seluruh penggila jazz yang datang. Selain itu, KJK juga punya misi memberikan suguhan yang bernilai edukatif dan tentu saja bemaanfaat untuk semuanya, sesuai dengan tag dari KJK sendiri yaitu: "Brotherhood, educative dan useful".

Sekitar pukul 13:00 WIB didalam Warung Kopi proklamasi (sebuah café shop didalam Freedom Institute) terlihat ada sekumpulan orang sedang duduk-duduk sembari berbincang santai. Rupanya sang empunya KJK-Beben Jazz sedang bercerita, dan bertukar pikiran dengan sesama Jazzer lainnya yang lebih junior. Bersama sebuah gitar akustik, Beben jazz bernyanyi sambil bercerita tentang serba-serbi dalam Jazz. Mulai dari makna lagu-lagu Chet Baker sampai penjelasan singkat tentang cara memainkan trumpet. Nuansana intim selalu coba dihadirkan antara sesama pecinta jazz didalam komunitas KJK, sikap ini yang selalu ditawarkan oleh Beben Jazz kepada semua orang.

Repertoire KJK dimulai dengan pemutaran konser Chet baker, lalu dilanjukansesi sharing dan diskusi. Diskusi dipertemuan kali ini akan membahas tentang perjalanan musik Jazz dari "West Coast Jazz" sampai era awal "Fusion". Jika membahas perjalanan musikjazz, waktu sepanjang apapun tidak akan pernah cukup untuk mengulasnya.Begitu pula sesi diskusi ini harus ditutup ketika Beben Jazz yang bertindak sebagai Speaker baru saja membahas era Modal Approachdalam style music Jazz, Karena keterbatasan waktu. Jazz akan selalu menimbulkan pertanyaan baru sebab jazz tidak akan pernah habis dijawab. Dan tentu saja pertanyaan-pertanyaan adalah awal dari segala pengetahuan baru.

Jam sudah menunjukkan pukul 15:30 WIB perform dari 9 Grup kedepan akan segera dimulai. Penampilan pertama yang tampil adalah SuperBiebier Jr. Mereka membawakan lagu-lagu standart yang dikemas dengan style swing. Penjiwaan yang mendalam dan scat singingyang merdu dari Jojo sang vokalis berhasil menyihir dan mengajak penonton terhanyut dalam menikmati "Autumn Leaves", "All of Me" dan "Fly Me to the Moon". Setelahnya ada D'Simply yang juga membawakan lagu-lagu standart seperti "Girl from Ipanema" dan "Autumn Leaves". Sesuai dengan namanya, mereka bermain cukup simple, tenang, santai dan memilih improvisasi yang 'aman-aman saja'. Sebagai penutup mereka membawakan lagu "Seandainya Sahabatku" yang merupakan Soundtrack film kartun Mojacko. Remaja yang tumbuh dan besar ditahun 90-an pasti tidak akan asing dengan lagu yang satu ini.

Sudah sejak 4 bulan yang lalu, didalam pertemuan KJK ada grup-grup dari komunitas lainnya yang juga diharapkantampil memeriahkan acara. Setelah D'Simply, naiklah salah satu grup dari Komunitas Blues - Breaktime yang bernama Kavenda & Freestones. Suasana jadi lebih berenergi ketika Kavenda (gitar&vokal) mulai check sound dan secara liar mencoba sound gitar electricnya. Bass line lagu "(I Can't Get No) Satisfaction" milik grup Rocklegendaris the Rolling Stones menjadi garis start aksi panggung mereka. Dengan memasukkan unsur-unsur blues, rock, funk serta jazz lagu-lagu seperti Come Together (the Beatles) dan Message in the Bottle (The Police) berhasil dihadirkan lebih berwarna daripada versi aslinya. Tepukan tangan yang meriah mengakhiri penampilan Kavenda & Freestones.
Penampilan selanjutnya, menurut run-down acara pertemuan KJK ke-102 adalah Mozzo. Tetapi karena sudah lewat waktu toleransi grup tersebut tidak juga hadir keatas panggung, akhirnya penampilan Mozzo dilewatkan dari daftar performoleh Panitia (Mozzo naik keatas panggung setelah Grup Miniztri). Pertemuan KJK sebenarnya merupakan acara yang santai,dinamis, dan penuh improvisasi sesuai dengan salah satu core idea dari Jazz sendiri. Tapi untuk masalah waktu, Beben Jazz lebih strictdan berpesan untuk selalu menghargai waktu. Seperti quote sindiran dari Thelonious Monk "Just because you're not a drummer doesn't mean that you don't have to keep time!"

Selanjutnya ada segerombolan musisi naik ke atas panggung. Mereka memakai kostum satu nada, kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam. Mengatasnamakan grup mereka sebagaiLos Komodos. Ternyata asal nama Los Komodos sendiri berasal dari nama sebuah pulau yang menjadi salah satu kekayaan alam Indonesia yaitu Pulau Komodo. Berbekal rasa cinta tanah air, Los Komodos mencoba untuk menghadirkan atmosfir musik latin. Line-up yangterbilang ramai-khas musisi latin dengan 5 pemaingitar,1 pemain bass, 1 pemain biola, 2 permain perkusi, dan sepasangvokalismembuat panggung terlihat sempit. Suasana menjadi semakin meriah, ketika lagu ke-2 yang berjudul asli "Nel blu dipinto di blu" atau yang lebih dikenal dengan "Volare" dimainkan. Sebagian penonton tidak asing dan ikut bernyanyi ketika masuk bagianrefflagu tersebut.Sebetulnya, Irama musik yang Los Komodos besut berpeluang besar mengajak para penonton yang datang untuk berdansa. Tapi sayangnya tidak ada satupun terlihat penonton yang cukup bernyali berdansa bersama mereka. Aksi panggung Los Komodos ditutup dengan membawakan hits dari salah satu musisi legendaris latin yaitu Carlos Santana berjudul Corazón Espinado sembari mengiringi matahari tenggelam diufuk timur.Los Komodos member sapaan penutup, kemudianturun dari panggung.Adzan magrib-pun berkumandang, soundsystem dimatikan untuk sementara, acara rehat sejenak.

Sekitar 20 menit jeda magrib, acara kembali dimulai. Grup selanjutnya yang mengisi panggung adalah Jagat Bluesman feat. Napoleon. Duo gitaris ini membawakan kembali hawa blues keatas panggung. "While My Guitar Gently Weeps" (The Bealtes) dan sebuah lagu delta blues milik Robert Johnson "Crossroad" dimainkan tanpa jeda. Setelah Jagat Bluesman feat. Napoleon, Jojo & Miniztri naik ke atas panggung. Karena Jojo tidak bisa hadir, kekosongan ini akhirnya diisi oleh lead Saxophone untuk menggantikannya. Mereka membawakan set-listjazz standart.
Setelah Miniztri menyelesaikan aksinya, giliran Mozzo yang sebelumnya dilewatkan dari daftar sequenceperformpertemuan KJK dapat giliran untuk tampil. Sekitar hampir 20 menit penampilan Mozzo, Meja Band bergantian posisi dengannya mengisi panggung. Kembali membawakan lagu-lagu standart dengan gaya swing. "When I Fall in Love", "Autumn Leaves", "Spain" dimainkan dengan anggun.Setelah Meja band, ada Spain. Mengusung eksoktika negara Spanyol, musik yang disajikan oleh grup Spain sukses mencairkan suasana diantara antara para penonton, yang semakin malam semakin banyak berdatangan.

Pertemuan KJK ke-102 ditutup oleh grup Attilion. Tiga serangkai blues rockini membakar kembali sisa-sisa semangat para penonton yang sedari tadi siang sudah hadir di Freedom Institute, dan juga mengundang decak kagum siapapun yang melihat aksi mereka.

Sebuah acara Jazz tidak akan berlangsung sempurna tanpa adanya Jam Session, begitu pula KJK kali ini.Setelah penampilan Attilion, Jam Session dimulai. Formasi pertama yang naik keatas panggung ada Justin pada Vokal, Ibnu pada Drummer, Daniel pada Bass, dan seorang gitaris tamu. Mereka memainkan lagu jazz standart "All the Things You Are". Setelah itu, Jam Session yang ke-2 Beben jazz naik keatas panggung memainkan trumpet dan Kavenda dari Grup Kavenda & freestones bermain gitar. Mereka membawakan salah satu lagu rhythm and blues standard, yaitu "Route 66".
Mulai terlihat perbedaan dalam penyajian acara pertemuan KJK yang ke 102 ini. Beben jazz sudah tidak lagi menjadi host penuh seperti yang biasa beliau lakukan.Kali ini yang dipercaya menjadi host adalah Mario dan Jojo. Dengan gaya lelucon yang segar mereka berhasil menghibur penonton, terbukti dari begitu seringnya terdengar deraitawa disela-sela jokes yang mereka coba berikan. Mereka ber-2 merupakan generasi penerus di KJK, salah satu contohvolunteer jazz yang akan selalu punya waktu dan hati untuk jazz. Dalam membawakan acara, Host Mario selalu menyinggung soal permasalah dan lika-liku dalam kehidupan dan dari situ bisa ditarik kesimpulan, bahwa ketika kita dihadapkan pada persoalan yang cukup rumit, mungkin salah satu jalan keluarnya hanya terdiri dari 4 huruf yaitu J-A-Z-Z.

Lihat juga Komunitas Jazz Kemayoran: About | Report Kegiatan

Suka halaman ini? Beritahu teman: