Home > Komunitas Jazz Kemayoran > Report > Report Komunitas Jazz Kemayoran Ke-103

Report Komunitas Jazz Kemayoran Ke-103

By: Rully Resa

Bagi sebagian orang awan mendung yang menyelimuti kota Jakarta pada hari Sabtu tanggal 24 November 2012 adalah momen yang cocok untuk bersantai di rumah, menghabiskan waktu seharian bersama keluarga, teman, sahabat maupun pasangan masing-masing. Tetapi alasan tersebut ternyata tidak berlaku bagi sebagian orang lainnya.Sebut saja golongan ini sebagai kumpulan musisi, kumpulan pencinta musik, kumpulan pemerhati music ataupun music enthusiast, dan spesifik para penggila jazz. Ketimbang bermalas-malasan diataskasur, mereka lebih memilih untuk datang dan berkumpul di freedom institute dengan satu tujuan, yaitu Jazz.Walaupun yang hadir dan mengisi acara dalam pertemuan KJK tidak melulu harus beraliran Jazz, tetapi Beben Jazz selaku pendiri dan ketua Komunitas Jazz Kemayoran selalu berpesan: "Dari Jazz kita bisa belajar banyak hal sebagai modal untuk bermain music dengan style lain. Bahkan tidak hanya dalam bermusik, dari Jazz kita banyak belajar tentang improvisasi, harmoni, yang tentu saja itu semua dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-sehari. Namun orang Jazz pun harus mau mendengarkan music lain, selain dapat menambah wawasan juga nantinya bukan tidak mungkin akan memperkaya khazanah dalam Improvisasinya".

Pertemuan KJK ke 103 dibuka dengan nontonbareng konser The Bill Evans Trio Live in Oslo '66 kemudian dilanjutkan dengan workshop piano jazz oleh Julian Marantika.Pria yang akrab dipanggil Joey ini menolak sebutan 'workshop' dan lebih nyaman jika disebut 'sharing session'. Karena suasana yang hendak dibangun ingin menyerupai sesicurhat (tentu saja tentang musik jazz). Night and day versi Bill Evans pun dengan indah dimainkan Joy membuka acara. Entah karena pengaruh pendingin ruangan atau perasaan antusias, jari-jari maestro piano tersebut sedikit gemetar diatas tuts piano yang ia tekan. Tetapi tidak ada nada yang meleset dari sasarannya, seluruh penonton terhanyut dibuai nada-nada indah.Acaraberlangsung selama kurang lebih satu setengah jam, dan pada akhir acara Beben Jazz dan Joey Marantika berpendapat bahwa Jazz adalah musisi untuk semua kalangan, tua dan muda, kaya dan miskin, musisi dan pendengar.Walaupun ada sebuah album Jazz pada era Be-bop milik Dizzy Gillespie, Stan Getz dan Sonny Stitt berjudul "For Musician Only". Tetapimenurutmereka, Jazz bersifat universal apresiasinya saja yang berbeda-beda.

Sekitarpukul 15:30 WIB Sesi performance dimulai. Sudah sejak 2 pertemuan KJK lalu, Beben Jazz tidak terlalu aktif menjadi pemandu acara.Tempat tersebut selanjutnya dipercayakan kepada Mario.Walaupun terkadang sesekali terlihatBeben Jazz juga naikke ke atas panggung memberikan sedikit komentar pada grup yang sudah atau akan tampil. "Ini bagian dari proses re-generasi Jazz, ujar beliau di suatu waktu beberapa bulan yang lalu."

Panggung pertama kali diisi olehgrup SQuartet dengan komposisi 4 musisi yang masing-masing bertanggung jawab pada departemen gitar, bass, drum serta vocal. Grup ini mengusung music jazz-fusion, funk dan ada jiwa rock yang hendask mereka sampaikan dalam lagu-lagu yang dibawakan."The Girl from Ipanema" menjadi lagu pembuka.Pada akhir lagu tersebut scat singing-yang menjadi salah satu cirri dari music jazz-dilantunkan begit umerdu oleh Ria sang vokalis.

Penampilan kedua yang menggantikan SQuartet diatas panggung ialah RGP (Revival Generation Project).Grup yang satu ini bisa dikatakan salah satu grup yang unik dalamkomunitas KJK. Bunyi-bunyian dari Suling bamboo dan sasando sering menjadi instrument yang mereka percaya dapat memperkaya music RGP. Kesan ethnical hendak disuguhkan dalam setiap penampilan RGP. Walaupun hujan yang mengguyur Freedom Institute terus turun cukup deras, penampilan mereka tidak kehilangan gregetnya.Bunyi suara hujan dan suara suling bamboo terdengar saut-menyaut diantara takjup mata penonton yang menyaksikan penampilan RGP. Ada aura mistis dalam komposisimusik RGP.Lagu-lagu yang mereka beri judul "The Sky today", "Funk Java", "Trip to Riau" berhasil menahan perhatian penonton agar tidak beranjakdariatas panggung. Penampilan RGP ditutup dengan tepuk tangan meriahdari penonton yang mulai kembali ketempatsemula karena hujan mulai reda.

Demank dan Anggi berganti posisi dengan RGP. Duet gitaris dan Piano ini membawakan salah satu lagu Jazz Standart "My Funny Valentine", kemudianmembawakan hits lawas berjudul "JuwitaMalam" dan ditutup dengan lagu mereka sendir iyang diberi judul "Kamu". Setelah penampilan Demank dan Anggi, Ada 3 wanita berambut kriwil naik keatas panggung. Wajah masing-masing dari mereka cukup mirip satu sama lain.Mereka menamakan grupnya sebagai Nona Ria Trio. Dengan formasi 1 pemain akordeon, 1 penggebuk snare, dan1 pemain keyboard, Nona Ria Trio membawa keceriaan yang unik keatas panggung. Jika dicermati lebih dalam suara yang berasal dari instrument akordeon bisa membawa khayalan penonton ke kotaParis, namun nyatanyamusik yang dimainkan mereka juga bisa berfungsi sebagai mesin waktu yang menghadirkan kembali suasana Batavia era colonial Belanda. Lagu rakyat seperti "Papaya, Mangga, Pisang, Jambu" pun dibawakan, seolah mengajak seluruh penonton untuk berdansa menemani para veteran perang kemerdekaan yang sedang reuni. Penampilan panggung Nona Ria Trio ditutup dengans uara adzan magrib, menandakan acara harus rehat sejenak.

Grup selanjutnya yang mengisi panggung setelah jeda Magrib adalah Nork (belakangan, Nork mengaku sudah berganti namamenjadi Multi Mandler). Kembali penonton KJK dikejutkan oleh penampilan grup yang ada diatas panggung.Musik Nork cukup unik untuk bisa tampil diacara komunitas KJK, karena musik yang mereka mainkan adalah music progressive-roc kera modern atau yang lebih dipahami dengan post-rock. Beben Jazz selalu berpendapat bahwa seorang musisi maupun pendengar akan lebih baik jika mendengar segala jenis musik, dan pendapat ini dibuktikan oleh penampilan dari Nork. Dilagu pertama mereka membawakan salah satu lagu alternative-rock berjudul "Vapour Trail" milik grup yang banyak disebut sebagai salah satu punggawa genre music Shoegazeasal Oxford, Inggris bernama Ride.Karakteristik music Nork, tidak banyak berbeda dengan grup post-rock lainnya, bertipikal electric guitar plus efek delay dan kesan mononton serta ritme yang konstan.
Kemudian, grup Nga-Blues naik keatas panggung.Sesuai dengan namanya, ngablues membawakan music dengan aransemen Blues to Rock and Roll yang kuat. Mereka memainkan lagu jazz standart lainnya berjudul L.O.V.E. dan uniknya, mereka membawakan salah satu lagu jaman perjuangan berjudul "Selendang Sutra". Penonton menyambutnya dengan meriah.Grup Nga-Blues turun, grup Eight-Ten PM naik.Eight-Ten PM bermain lembut, dengan mengedepankan aransemen smooth-jazz dan sesekali memasukkan unsure rock dan funk. Seakan ada arwah Wes Montgomery dalam permainan gitaris Eight-Ten PM. Benar saja, ternyata Monty Chimonk (sang gitaris) mengaku memang mengidolakan gitar Jazz Legendaris itu, yang punya julukan "The man with thumb finger" karena selalu memetik senar gitarnya dengan Jempol"

Grup terakhir di Pertemuan KJK kali ini adalah grup High and Low, seakan tiada lelah 'meneriakkan' semangat jazz, High and Low tampil maksimal menutupacara. "All the Things You Are, "Stella By Starlight","Seven Steps To Heaven"dimainkan penuh penghayatan, tentu saja dengan mudah mengundang decak-kagum penonton.

Seperti kata-kata Joy Marantika pada sesi workshop "salah satu saat yang sangat baik untuk belajar jazz adalah ketika Jam Session". Seperti biasanya acara KJK selalu ditutup dengan Jam Session yang terbuka untuk umum.Siapa saja boleh bergabung, tanpa perlu ragu dan takut.Dalam Jam Session pemain dituntut untuk 'berbicara' jujur pada diri sendiri dan partner bermainnya.Ada seorangfilsuf yang mengatakan "Mengapa manusia diberikan 2 buah kuping dan 1 buah mulut?" jawabannya adalah supaya mereka lebih banyak mendengar dari pada berbicara.Didalam Jam Session, seorang musisi juga diajarkan menjadi pendengar yang baik agar memahami bahasa partner-nya diataspanggung. Beben Jazz suatu ketika berbicara: "Jazz itu seperti orang yang sedang ngobrol, jadi butuh pembicara dan butuh pendengar. Dan ketika kita sudah bisa mengert iapa yang kita dengar, kita sudah tidak takut lagi ketika datang gilirannya untuk berbicara. Maka komunikasi dapat terjalin dengan baik".

Lihat juga Komunitas Jazz Kemayoran: About | Report Kegiatan

Suka halaman ini? Beritahu teman: